Entah bagaimana asal muasalnya, Harsa, teman main Abang di rumah mengajak nonton film 3D sebagai hadiah ulang tahun buat Abang. Asal muasal maksudnya, apakah Abang yang minta ditraktir nonton untuk hadiah ulang tahun, atau memang Harsa yang berinisiatif memberikan hadiah ulang tahun berupa traktir nonton film.
Karena Harsa sudah lebih besar (12 tahun) dan kami kenal anaknya cukup dewasa+ bertanggungjawab, kami membolehkan Abang untuk nonton bersamanya. Pilihan filmnya pun aman untuk anak-anak seusia Abang & Harsa.
“Kata kak Harsa, aku nanti juga ditraktir makan siang. Tapi, habis nonton kita mau ke Timezone. Bagaimana kalau gantian aku yang traktir kak Harsa?”
Boleh juga, ide bagus untuk ganti mentraktir teman….
Sebelum berangkat ke kantor, ayahnya memberikan selembar uang seratus ribuan, dengan pesan untuk memanfaatkan sesuai tujuan.
Abang setuju, deal!
Sore hari, Abang menelepon dengan ceria
“Alhamdulillaah, tadi asyik banget Bun!”
Dia lalu bercerita panjang lebar mengenai film yang ditontonnya, bagaimana serunya teknologi 3D sehingga terasa seperti benar-benar nyata.
Kemudian, saya meminta “pertanggungjawaban keuangan”
“Begini, Bun. Tadi Ayah kasih aku Rp 100,000. Terus aku pakai buat ngisi kartu Timezone Rp 25,000. Karena aku sudah ditraktir makan, dan kak Harsa gak mau ditraktir Timezone, uangnya masih sisa banyak, Rp 75,000. Trus aku tadi beliin Fikhar kue chiffon. Rp 10,000. Tuh, aku kepikiran kan sama adikku?! Jadi sekarang uangnya masih Rp 65,000”
Alhamdulillaah….
Ada dua hal besar di sini.
Pertama, Abang membelanjakan uang sesuai dengan apa yang telah disepakati dan itu artinya Abang memegang teguh amanah dan kepercayaan yang telah diberikan oleh Ayahnya!
Kedua dan yang lebih mengharukan, dia memikirkan adiknya!
Selama ini, saya melihat interaksi keduanya lebih mirip interaksi tokoh di film kartun "Tom & Jerry". Tom & Jerry terlihat selalu bermusuhan atau bersaing, namun di lain pihak mereka saling mengerti satu sama lain. Abang tahu persis, adiknya sangat menyukai kue chiffon itu. Hal ini menjadi luar biasa, karena Abang sendiri juga senang kue itu, tapi tidak boleh makan kue chiffon itu karena mengandung terigu dan gula! Dia memiliki uang di tangannya, dia bisa saja ikut membeli kue chiffon itu, atau bahkan membeli kue lain yang diinginkannya.
Subhanallaah… hanya seorang anak berjiwa besar yang bisa melakukan hal itu!
Selain bersyukur kepada Allah atas kejadian ini, saya juga berdoa dan berharap, semoga untuk seterusnya Abang bisa menjadi manusia yang bisa memegang amanah. Satu jenis manusia yang makin langka di Indonesia. Jika saja semua orang Indonesia seperti Abang, memegang teguh amanah, tidak melanggar peraturan, tidak menggunakan sesuatu yang bukan haknya, dan memikirkan orang lain, Indonesia akan terbebas dari permasalahan-permasalahan kronis yang melingkupinya : korupsi, pelanggaran HAM, atau juga mafia perpajakan!
Selain bersyukur kepada Allah atas kejadian ini, saya juga berdoa dan berharap, semoga untuk seterusnya Abang bisa menjadi manusia yang bisa memegang amanah. Satu jenis manusia yang makin langka di Indonesia. Jika saja semua orang Indonesia seperti Abang, memegang teguh amanah, tidak melanggar peraturan, tidak menggunakan sesuatu yang bukan haknya, dan memikirkan orang lain, Indonesia akan terbebas dari permasalahan-permasalahan kronis yang melingkupinya : korupsi, pelanggaran HAM, atau juga mafia perpajakan!

No comments:
Post a Comment