Monday, December 27, 2010

Kosa Kata a la Kamus Fikhar

Sekalipun tergolong kurang maju dalam hal pelafalan, Fikhar termasuk ekspresif dalam berbicara & bercerita dan senang mencoba menggunakan kata yang baru dikenalnya. Pada penggunaan kata-kata baru, Fikhar terkadang pas, tapi juga sering meleset atau bahkan terbalik maknanya.
Misalkan, ketika kami berada di sebuah food court, saya ajak Fikhar “browsing” memilih makanan baru yang belum pernah dia coba. Saya kuatkan untuk mencicipi masakan lain karena Fikhar cenderung memilih menu makanan yang aman/sudah dikenalnya. Fikhar menolak,
“Gak mau coba makanan baru, nanti aku BOSEN!”
Pernah juga, dia menemukan istilah “baru”.
Pada waktu itu, Fikhar sedang bersiap untuk mandi. Ternyata di lantai kamar mandi ada serangga yang terperangkap saringan air, bergerak-gerak berusaha melepaskan diri. Fikhar kurang nyaman dengan kondisi tersebut,
“Bundaaaa…… tolong serangganya itu DIDAPETIN (ditangkap) dulu, terus dibuang ke tempat sampah. Aku gak bisa mandi nih!”
Pernah pula, dia merasa gatal di punggung dan dia agak susah menggaruk. Dia minta tolong,
"Bunda tolong dong, punggungku DIGATELIN!"

Tapi Fikhar juga pernah menemukan kata baru, dan berusaha memahaminya sendiri. Ceritanya, abangnya sedang asyik mempertontonkan kepada teman-temannya mainan barunya, helikopter yang dikendalikan dengan remote control. Fikhar terlihat tekun menyimak perbincangan abangnya dengan teman-temannya tersebut.
Tanpa disadari Fikhar, topik pembicaraan tiba-tiba beeralih ke merek-merek sepatu bola. Apalagi abangnya masih bercerita sambil memegang mainan helikopter itu di tangannya. Fikhar masih asyik menyimak. Ketika pembicaraan selesai dan abang beserta teman-temannya bubar, Fikhar melapor dengan wajah bangga :
“Bunda, helikopter ADIDAS itu paling bagus!

Kenapa?"
“Iya, terbangnya paling kenceng, terus kalau nembak bola bisa jauh banget, soalnya enteng!”

Sunday, December 26, 2010

Ulang Tahun Abang - I

Tanggal 21 Desember 2010 ini Abang berulang tahun yang ke 10.
Hebooo...h, banget!
Terutama berkaitan dengan rencana/acara peringatannya dan tentu saja hadiah ulang tahun yang dia inginkan. Dan kehebohan ini sudah mulai terjadi di bulan Oktober ketika Fikhar berulang tahun. Acara Ulang Tahun Fikhar sendiri "hanya" diperingati dengan berdoa dan makan bersama anak-anak yatim piatu. Bukan sesuatu yang menarik buat Abang.
Sudah beberapa tahun terakhir ini, Abang ingin sekali memelihara binatang. Oleh karena itu, tahun lalu, ayahnya menghadiahi ikan hias. Pada waktu membelinya, dia nampak begitu antusias. Namun seiring waktu, antusiasme terasa mengendur dengan cepat hingga akhirnya si ikan hias tidak diperhatikan sama sekali! Si Embak yang akhirnya kebagian tugas memberi makan dan setiap kali mengganti air & membersihkan ‘aquarium’nya. Alasannya,
“Aku pengin binatang peliharaan yang bisa disentuh, diajak main-main!”
Pesan Abang tahun ini cukup "jelas",
“Aku mau hadiah anak anjing, golden retriever!”


Kami coba berikan penjelasan dan paparkan masalah yang akan timbul, tapi selalu dibantahnya.
Masalah 1 : Air liur anjing itu najis
“Kita taruh di luar, di halaman samping, jadi ga masuk rumah! Kalau kena najisnya, nanti bersuci. Aku sudah tau caranya”
Gubrakk !! (Tahap 1)
Masalah 2 : Si Embak nanti nggak betah kerja di kita karena takut
Sambil membawa buku tentang anjing, Abang berbicara ke Embak
“Mbak, sini kubilangin… Ini anjing jenis golden retriever. Ini anjing yang baik, suka menolong, dan sayang anak-anak. Jadi gak usah takut ya?!”
Ketika si embak tetap merasa takut,
“Bun, bagaimana kalau kita cari Mas aja, yang khusus merawat & ngajak jalan-jalan anjing?!”
Gubrakk!! (Tahap 2)
Masalah 3 : Biaya perawatan anjing itu mahal, juga makanannya
“Aku nanti nabung, kalau mau mandiin & potong kuku, di pet shop situ Rp 80,000! Makanannya ga usah yang makanan jadi, pakai nasi sama kaldu. Kan Bunda sering beli tulang sapi tuh? Nah, dikasih makan seperti itu saja! Tapi aku tetap minta Bunda uang buat vaksinasi & pengobatan!”
Gubrakk !! (Tahap 3)
Masalah 4 : Siapa yang akan kasih makan & minum, cuci piring, cangkir, bersihkan kandang
“Aku yang akan merawat. Kalau pas aku sekolah, kita bisa TITIPKAN ke rumah Kevin (tetangga sebelah rumah yang beragama Nasrani & memelihara beberapa anjing)”
Gubrakk!! (Tahap 4)
Pokoknya maksa…..
Kami coba mengalihkan ke jenis binatang lain
Kucing?
“Wah, manja! Nanti bulunya bisa bikin Fikhar alergi laa...!”
Kelinci?
“Bauuu….!!!”
Tupai Terbang?
“Itu, si Robby udah punya Tupai Kelapa! Kalau kegigit, sakit banget loh!”
Jadi….???? Abang mau hadiah apa selain anak anjing?
“Helikopter aero modeling atau yang pakai remote. Kalau enggak, Nerf saja (mainan tembakan, jenis barang terlarang di rumah)!”
Gubrakk!! (Finish, keinginan yang sesungguhnya sudah terekspresikan!)

Ulang Tahun Abang - II

Entah bagaimana asal muasalnya, Harsa, teman main Abang di rumah mengajak nonton film 3D sebagai hadiah ulang tahun buat Abang. Asal muasal maksudnya, apakah Abang yang minta ditraktir nonton untuk hadiah ulang tahun, atau memang Harsa yang berinisiatif memberikan hadiah ulang tahun berupa traktir nonton film.
Karena Harsa sudah lebih besar (12 tahun) dan kami kenal anaknya cukup dewasa+ bertanggungjawab, kami membolehkan Abang untuk nonton bersamanya. Pilihan filmnya pun aman untuk anak-anak seusia Abang & Harsa.
“Kata kak Harsa, aku nanti juga ditraktir makan siang. Tapi, habis nonton kita mau ke Timezone. Bagaimana kalau gantian aku yang traktir kak Harsa?”
Boleh juga, ide bagus untuk ganti mentraktir teman….
Sebelum berangkat ke kantor, ayahnya memberikan selembar uang seratus ribuan, dengan pesan untuk memanfaatkan sesuai tujuan.
Abang setuju, deal!
Sore hari, Abang menelepon dengan ceria
“Alhamdulillaah, tadi asyik banget Bun!”
Dia lalu bercerita panjang lebar mengenai film yang ditontonnya, bagaimana serunya teknologi 3D sehingga terasa seperti benar-benar nyata.
Kemudian, saya meminta “pertanggungjawaban keuangan”
Begini, Bun. Tadi Ayah kasih aku Rp 100,000. Terus aku pakai buat ngisi kartu Timezone Rp 25,000. Karena aku sudah ditraktir makan, dan kak Harsa gak mau ditraktir Timezone, uangnya masih sisa banyak, Rp 75,000. Trus aku tadi beliin Fikhar kue chiffon. Rp 10,000. Tuh, aku kepikiran kan sama adikku?! Jadi sekarang uangnya masih Rp 65,000”
Alhamdulillaah….
Ada dua hal besar di sini.
Pertama, Abang membelanjakan uang sesuai dengan apa yang telah disepakati dan itu artinya Abang memegang teguh amanah dan kepercayaan yang telah diberikan oleh Ayahnya! 
Kedua dan yang lebih mengharukan, dia memikirkan adiknya!
Selama ini, saya melihat interaksi keduanya lebih mirip interaksi tokoh di film kartun "Tom & Jerry". Tom & Jerry terlihat selalu bermusuhan atau bersaing, namun di lain pihak mereka saling mengerti satu sama lain. Abang tahu persis, adiknya sangat menyukai kue chiffon itu. Hal ini menjadi luar biasa, karena Abang sendiri juga senang kue itu, tapi tidak boleh makan kue chiffon itu karena mengandung terigu dan gula! Dia memiliki uang di tangannya, dia bisa saja ikut membeli kue chiffon itu, atau bahkan membeli kue lain yang diinginkannya.
Subhanallaah… hanya seorang anak berjiwa besar yang bisa melakukan hal itu!
Selain bersyukur kepada Allah atas kejadian ini, saya juga berdoa dan berharap, semoga untuk seterusnya Abang bisa menjadi manusia yang bisa memegang amanah. Satu jenis manusia yang makin langka di Indonesia. Jika saja semua orang Indonesia seperti Abang, memegang teguh amanah, tidak melanggar peraturan, tidak menggunakan sesuatu yang bukan haknya, dan memikirkan orang lain, Indonesia akan terbebas dari permasalahan-permasalahan kronis yang melingkupinya : korupsi, pelanggaran HAM, atau juga mafia perpajakan!

Friday, December 10, 2010

PERTANYAAN DARI HR DIRECTOR

Abang akrab dengan seorang sepupunya, mb Rumi.  Keponakan saya ini kebetulan sedikit tomboy, dan mengerti betul dunia anak laki-laki. Mereka berdua bisa asyik ngobrol soal olah raga, hotwheels, betah main PS bareng  atau  bahkan rebutan mainan dengan radio control. Padahal, mb Rumi ini sudah lulus kuliah dan sedang menunggu panggilan kerja.
Suatu ketika, mb Rumi mengabarkan bahwa mantan teman SMAnya – dan sedang pedekate ke dia – datang ke Jakarta dalam rangka kompetisi olah raga bela diri. Karena sudah pernah berkenalan sebelumnya, kami sekeluarga menyempatkan diri untuk menjenguknya di tempat karantina yang lokasinya kebetulan tak jauh dari rumah kami.
Abang terkagum-kagum begitu mengetahui mas Ardi – teman mb Rumi - menjadi wakil kotanya untuk bertanding olahraga beladiri. Terlebih ketika kami jelaskan, mas Ardi ini mengetahui teknik-teknik beladiri termasuk bagaimana caranya agar jatuh tanpa rasa sakit apalagi sampai cedera/patah tulang.
Sekalipun tidak memiliki kesempatan untuk melihat secara langsung kompetisi itu, kekaguman Abang  terhadap mas Ardi tidak berkurang dan beberapa kali dia menyatakan ingin belajar bela diri seperti mas Ardi.
Waktu berlalu... Mb Rumi & mas Ardi masih melanjutkan penjajagan hubungan mereka. Hingga pada suatu hari, kami berkumpul pada acara keluarga yang diselenggarakan papa dan mama mb Rumi. Selesai acara, seperti biasa, kami duduk-duduk ngobrol kesana kemari. Pada waktu itu, ada mama mb Rumi, mb Rumi, saya dan Abang.
Abang bertanya ke mb Rumi
“Mb Rumi sudah dapat pekerjaan?”
“Iya, alhamdulillaah mb Rumi bulan depan mulai bekerja!”
“Kalau mas Ardi sudah bekerja belum?”
“Belum”
“Kenapa”
“Mas Ardi selesaikan kuliah dulu, nanti setelah selesai kuliah baru bekerja”
“Kenapa mb Rumi sudah selesai kuliah, mas Ardi belum?”

 
Sampai di sini, mama mb Rumi memalingkan muka, sambil menutup mulut menahan senyum dan berbisik ke saya
“Aduh dik, aku aja yang mamanya gak berani nanya!”
Mb Rumi mencoba menjelaskan,
“Karena beda kuliahnya. Mas Ardi lebih susah pelajarannya daripada mb Rumi”
“Kenapa mas Ardi memilih yang lebih susah? Bukannya lebih cepat dapat pekerjaan lebih baik?”
Kami semua terdiam dan tidak bisa secara spontan menjawab pertanyaan Abang.
Sampai akhirnya Abang berlalu dan melakukan hal lain, kami masih saling terdiam mencoba mencerna logika Abang.
Betul juga ya, pikir saya. Apalagi kalau menyadari kenyataan bahwa jenjang S1 sekarang ini lebih banyak memberikan landasan berpikir logis, bukan keahlian spesifik. Jadi seharusnya, selesaikan kuliah cepat-cepat dan bersiaplah menuju “dunia nyata”. Ambil yang sesuai minat sehingga sesulit apapun pilihan jurusannya, akan lebih mudah bagi mahasiswa untuk melaluinya.

Thursday, December 9, 2010

ABANG, SANG LELAKI KECIL BERJIWA BESAR

Kondisi psikologis & emosional Abang cenderung naik turun. Secara umum, Abang bersikap aktif, periang, mudah beradaptasi pada lingkungan baru, cenderung ofensif, banyak melakukan kegiatan motorik kasar, kurang terorganisasi  dan tentu saja mudah beralih perhatian. Terkadang, dia sangat manis dan begitu menyenangkan. Namun di saat lain, Abang bisa begitu menjengkelkan semua orang.
Sekalipun demikian, satu hal yang seringkali muncul dan bahkan bisa dilihat sebagai suatu sikap yang menetap, adalah kepeduliannya pada orang lain yang sangat tinggi. Saking tingginya, terkadang kita harus ‘mengerem’nya karena bahkan bisa mengabaikan asas kepantasan. Namun pada umumnya, bisa dikatakan kepekaan dan kepedulian kepada orang lain yang dimiliki Abang sangat tinggi, atau paling tidak lebih tinggi dibandingkan teman-teman seusianya.
Sikap ini juga dia tunjukkan ketika eyangnya (neneknya) yang tinggal di Yogyakarta “mengungsi” ke rumah kami karena ada bencana Merapi. Selain melarang eyangnya melakukan hal-hal fisik (menyapu halaman, memotong tanaman, membantu memasak) dengan alasan :
“Nanti Eyang capek! Eyang duduk saja sambil baca koran atau nonton TV ya?!”
Abang juga peduli kepada kondisi pendengaran eyangnya yang sudah sangat berkurang.
Terkadang dia mengeluh,
“Aduuuuh, Bunda… susah banget bicara sama Eyang! Nggak denger!”
Tapi lebih sering saya mendapati Abang berbicara ke Eyang dengan volume besar, intonasi jelas, dan kecepatan berbicara rendah. Hal ini tentu saja bukan hal yang gampang buat Abang yang cenderung berbicara keras, cepat dan intonasi asal-asalan. Belum lagi kecenderungan Abang untuk cadel dalam melafalkan huruf “R”.
Bagi saya, merupakan suatu keindahan menyaksikan gaya bicara Abang kepada eyangnya. Selain lucu – seperti seorang guru TK sedang mengajari konsep baru kepada muridnya, juga karena saya tahu Abang sedang bersungguh-sungguh dan berusaha keras mengatasi kelemahannya agar bisa berkomunikasi dengan eyangnya!
Tapi, ternyata bukan hanya itu!
Pada suatu sore, Abang mendekatiku dan bertanya :
“Bunda tau, di mana letak Bank Xxxx yang terdekat?!”
“Loh, memangnya kenapa, Bang?”
“Aku mau ambil aja, uang yang ada di tabungan Abang di Bank Xxxx itu!”
“Buat apa?Abang mau beli sesuatu? Kalau bisa tabungan jangan dipakai kalau tidak perlu-perlu amat!”

Saya menduga, pasti Abang ingin sesuatu yang agak mahal sebagai hadiah mengingat hari ulang tahunnya tiba sebentar lagi. Ternyata…
“Aku mau bantu Bunda beliin alat bantu dengar buat Eyang! Kan, kata Bunda harga alat bantu dengar buat Eyang mahal?! Nah, kita ambil sajan tabungan Abang, sisanya ditambahi Bunda, biar Eyang bisa pakai alat bantu dengar”
Subhanallaah….

Saya tidak bisa berkata apapun, selain memeluk & mencium kepalanya. Tak terasa, air mata haru saya deras menetes, membasahi rambut ikalnya....  

Beberapa waktu yang lalu, dia memang sempat bertanya, kenapa eyangnya belum pakai alat bantu dengar. Saya katakan ternyata harganya jauh di atas perkiraan, jadi perlu waktu karena harus menabung dulu.
Saya tidak tahu, berapa jumlah tabungan Abang yang mau diambil. Tapi saya tahu persis, perhatian Abang kepada neneknya sungguh tak ternilai!

PERLU APA PENGIN?

Dalam perjalanan mengantarkan Fay ke sekolah, saya baru menyadari bahwa kantong tas sekolahnya yang memang telah robek beberapa waktu, makin lebar robekannya sehingga terlihat nyata.
Tas sekolah itu “warisan” dari almarhum kakaknya, namun menjadi tas kesayangan karena warnanya keren dan bergambar tokoh hero idola.
“Wah, rupanya tas Fikhar sudah robek ya?! Nanti kalau pas libur, kita cari tas baru yuk? FikhAr mau yang gambarnya apa?!”
“Nggak, nggak usah Bunda. Ini yang robek kan cuma satu kantong, yang satu masih bagus. Kalau nanti sudah robek dua-duanya, baru kita ganti tas!”
Subhanallah…
Saya bersyukur Fikhar mengerti apa yang dia perlukan, bukan yang dia inginkan. Tapi saya jadi malu, teringat entah itu tas, sepatu, baju atau barang-barang lain yang saya beli. Selalu saja ada alasan untuk membeli yang baru, meskipun yang lama masih bagus dan jumlahnyapun sudah banyak!

SURAT CINTA

Pagi-pagi, ketika sedang mandi, saya mendengar ada keributan di meja makan yang berujung dengan tangisan Fikhar.
Selesai mandi, saya sempat melongok meja makan dan berkomentar
“Apa lagi nij?! Bisa diselesaikan dengan bicara baik-baik?”
Keributan dan tangisan Fikhar berhenti.
Saya ke kamar ganti, berganti pakaian dan bersiap untuk berangkat ke kantor.
Keluar dari kamar ganti, Abang menyodorkan kertas terlipat sambil berkata
“Ini buat Bunda, tolong nanti dibaca”

Di mobil, kertas terlipat itu saya buka

“Untuk : Bunda. Bunda, saya sudah benci kepada Fikhar. Saya selalu mengalah. Walaupun saya mau ini, saya tetap mengalah. Apapun yang dipegang saya, selalu diminta. Kalau saya tidak kasih, Fikhar nangis. Fikhar itu senjatanya menangis, supaya nanti yang buat Fikhar menangis, dimarahin”
Dari embak, saya mendapat informasi, Abang minta lauk sarapan – jamur enoki goreng milik Fikhar. Fikhar tidak mau berbagi, si Abang mengambil dengan paksa.
Sebelum pulang kantor, saya siapkan “ surat balasan” buat Abang. Ketika sampai di rumah, saya sodorkan surat itu ke Abang yang datang menyambut
“Untuk : Abang. Abang, Bunda kok makin hari makin cinta kepada Abang. Kenapa ya?! Padahal, Abang sering membuat Bunda kesal. Apa yang Bunda katakan, sering tidak didengarkan. Memang semua itu untuk kebaikan  Abang, tapi seharusnya Bunda benci kepada Abang! Juga kalau Abang tidak mau mengalah kepada Fikhar. Atau mungkin karena Bunda percaya, Abang adalah anak yang sholeh, pintar dan sayang kepada sesama?! Bunda percaya Abang adalah seorang kakak yang baik buat Fikhar dan bisa memberikan contoh bersikap yang baik kepada dia. Semoga anak Bunda yang pintar dan sholeh ini mau mengerti. Salam, Bunda”
 Saya perhatikan, ketika membaca wajahnya terlihat cerah dan bibirnya beberapa kali tersenyum, dan sambil melipat kembali surat itu, dia berkata :
“Insya Allah, Bunda. Saya bisa mengikuti peraturan dan membuat Bunda bahagia”

Tuesday, December 7, 2010

PEMECAHAN MASALAH JITU

Mulai kemarin, mobil kami masuk bengkel. Jadi kami berdua, saya dan Fikhar, menumpang mobil ayahnya. Di jalan, Ayahnya menggoda Fikhar soal pengaturan rute:

"Ini nanti antar Ayah dulu, terus antar Bunda, baru antar Fay sekolah ya?!"

"Tidak, aku dulu, terus antar Bunda, baru ke kantor Ayah!" sergah Fikhar

"Loh, ini kan mobil Ayah. Fikhar dan Bunda hanya menumpang, jadi antar Ayah dulu!"

"Tapi aku tidak setuju! Aku nanti sangat terlambat masuk sekolah!"

Fay terlihat sangat tidak nyaman.
Mulutnya terkatup rapat dan dahinya berkerut menandakan dia sedang berpikir keras.

Setelah berdiam diri beberapa lama, suaranya memecah keheningan 

"Begini saja... Pulang kantor nanti, Bunda langsung beli mobil lagi ya?!"

Thursday, December 2, 2010

MELATI - SI MISS UNIVERSE

Cerita tentang si cantik Melati tidak berhenti di situ... Dari waktu ke waktu, kami jadi makin mengerti, ternyata Melati sangat perhatian kepada orang lain dan penuh welas asih...
Di sekolahnya yang bersifat inklusif (belajar bersama dengan teman-teman berkebutuhan khusus) Melati menunjukkan perhatian yang sangat besar kepada teman-temannya yang berkebutuhan khusus.
Tak jarang kami lihat Melati masuk kelas paling belakang, karena harus membimbing temannya yang berkebutuhan khusus, yang biasanya mengalami kesulitan pada saat transisi (berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan berikutnya). Dan hal itu dia lakukan dengan tersenyum! Sungguh menggambarkan perasaan hatinya yang tulus ikhlas & bahagia bisa membantu temannya.
Pernah suatu ketika Melati ditegur Ibu Guru karena terlihat melamun dan tidak mengerjakan tugas sekolah. Ketika ditegur, Melati dengan tangkas menjawab
"Ibu, saya tidak sedang melamun...! Saya sedang memikirkan, kalau nanti sudah dewasa, siapa yang akan mengurus Xxxx ya? Apa saya jadi isterinya saja ya?!" Xxxx adalah temannya yang berkebutuhan khusus.
Luar Biasa...!!
Pernahkah kita memiliki perhatian, keprihatinan dan rasa welas asih kepada orang lain seperti yang ditunjukkan Melati? Atau kita sibuk memikirkan diri sendiri & keluarga, dan makin mengabaikan sekitar kita, bahkan ketika pintu hati kita telah diketuk?
Sungguh cantik dirimu, Melati. Kalau saja dia mengikuti pemilihan ratu dunia, pastilah dia akan terpilih karena kecantikan & kecerdasannya. Akan tetapi, tak perlu baginya untuk ikut kontes, dialah ratu dunia yang sesungguhnya! Kecantikan lahir bathinnya akan menerangi dunia, meskipun tanpa mahkota & kilau permata.

MELATI – PROFESI IDAMAN

Kulitnya putih bersih, pipinya kemerah-merahan. Hidungnya mancung, dan matanya membola berbinar. Bibirnya yang mungil berwana pink segar. Dan yang paling menonjol, rambut ikalnya berwarna coklat kepirangan.
Sungguh, tidak ada kata yang lebih tepat untuk menggambarkan Melati, selain ... Cantik!
Aku mengenalnya sejak dia masih batita, mungkin belum genap 3 tahun, karena dia teman sekelas Abang sejak di kelompok Baby House.
Selain cantik, Melati juga sempurna menggambarkan ciri-ciri anak yg tumbuh normal dan cerdas : ceria, kritis, banyak bertanya, kreatif dan juga ... Jahil!
Bahkan, sempat saya juluki Melati 'partner in crime'nya Abang karena dua-duanya "advanced" kejahilannya.
Sekolah Abang & Melati, secara periodik menyelenggarakan pentas Refleksi Hasil Pendidikan. Kali ini, para murid diminta untuk mempresentasilkan profesi yang mereka cita-citakan, lengkap dengan kostumnya. Abang memilih profesi astronot. Alhasil saya pusing mencari persewaan baju astronot.
Ternyata susah! Yang ada hanya baju astronot untuk orang dewasa!

Karena hingga satu minggu menjelang pentas, belum juga menemukan kostum yang sesuai, saya putuskan membuatnya di tukang jahit, lengkap dengan bordiran ala NASA. Akhirnya kepusingan saya terbayar. Abang tampil dengan baju astronot made in Mang Didin yang keren, lengkap dengan bordiran logo Nasa, wing, name tag Haydar sebagai Commander plus.... helm full face warna putih.
Dengan segala kepusingan itu, saya tidak bisa membayangkan lagi, bagaimana pusingnya mama Melati mencari kostum pentas untuk putrinya yang cantik itu. Karena Melati memilih profesi sebagai... Asisten Rumah Tangga!
Kami, para orang tua murid, tertawa bahkan ada beberapa hingga terbahak ketika Ibu Guru memberikan penjelasan kepada hadirin profesi apa yang sedang dipresentasikan oleh Melati.

Tapi, kemudian saya terhentak : Kenapa Melati memilih profesi ART sebagai profesi idamannya? Apakah karena dia menyadari betapa pentingnya profesi ini di kehidupan rumah tangga? Apakah karena dia merasa profesi ini profesi yang paling mulia? Atau....?
Sebaiknya saya memang harus menanyakan kepada langsung.  

SADARI APA YANG SEDANG TERJADI

Barusan kami kedatangan 'tamu'.Seorang bocah laki-laki berusia sekitar 10-11 th dengan perawakan gagah & kulit bersih. Sebut saja dia Timmy.
Timmy adalah anak tetangga kami, tapi karena lokasi rumahnya jauh dari blok kami, kami tak begitu mengenalnya. Abang mengenalkan kepada kami.
"Bunda, ini temanku, Timmy. Dia sudah klas 4, tapi tingkah lakunya kadang-kadang masih seperti anak 5 tahun!"
OK, kami jadi tahu bagaimana harus berkomunikasi dengan Timmy.
Timmy bertamu karena ingin bermain bersama Abang. Tapi karena sedang asyik dengan sepedanya, Abang jadi lebih sering keluar rumah. Alhasil Timmy jadi lebih banyak berinteraksi dengan Fikhar yang delapan tahun lebih muda dari Timmy.
Mereka berdua duduk tenang di sofa, bercerita (meskipun saya sendiri kurang yakin apakah mereka mengerti satu sama lain) sambil nonton dvd Barney & beberapa film Disney. Rukun & klop.
"Aku sayang Kimi!"
Kata Fikhar sambil menunjuk “Kimi” (Timmy dalam bahasa cadelnya).
Tak berapa lama kemudian terdengar suara Abang di luar, Timmy beralih fokus. Dia bergegas keluar & memanggil- manggil Abang. Ketika tau Abang ternyata di luar pagar, Timmy berusaha keluar rumah, tapi....
"Om, bagaimana cara buka pintunya?" Tanya Timmy ke suami yang kebetulan sedang berada di dekat pintu
"Langsung dibuka saja, gak dikunci koq!"
"Tapi, ada sepeda di depan pintu!" Kata Timmy sambil menunjuk ke sepedanya yang diparkir di depan pintu rumah kami.
"Oh, OK... Apa yg harus Timmy lakukan ya?!" Kata suami yang mulai memahami pernyataan Abang yang mengatakan Timmy kadang-kadang seperti anak berumur lima tahun
"Tidak tau Om!"
"Coba Timmy geser sedikit sepedanya... Bisa dibuka gak ya pintunya?"
Timmy mengikuti saran suami. Dan begitu pintu ‘berhasil’ dibuka, Timmy segera berlalu dengan sepedanya, bergabung dengan Abang di luar.

Karena 'ditinggal' Timmy, Fikhar merasa kesepian.
"Bunda, kita main kotak hijau yuk?" Ajaknya. Kotak hijau adalah sebutan untuk puzzle berbentuk kubus dengan warna dominan hijau. Kemudian diambilnya tangga kayu
“Buat apa  tangganya, Fay?” Tangga kayu itu biasanya digunakan untuk membantu Fikhar cuci tangan karena washtafelnya cukup tinggi.
"Buat ambil kotak hijau! Tempatnya tinggi, Fikhar gak sampai!"
Subhanallah, kedua peristiwa itu membuat saya sadar bahwa saya tengah menyaksikan proses belajar yang luar biasa dari seorang anak: berpikir, mengamati lingkungan, menghubungkan sebab akibat, dan problem solving dari seorang anak. Kalau saja tidak ada peristiwa Timmy dengan pintu & sepedanya saya mungkin akan mengabaikan perkembanghan proses berpikir Fikhar yang sudah bisa merencanakan apa yang akan dilakukannya/dicapainya.
Peristiwa Timmy menyadarkan saya bahwa rangkaian berpikir logis, runut, terstruktur & sistematis bukanlah sesuatu yang "otomatis" tapi sebuah proses berpikir yang panjang & rumit. Diperlukan latihan, bimbingan, dan juga lingkungan yang kondusif bagi anak untuk berpikir & memecahkan persoalan hidupnya.
Saya bersimpati & ikut prihatin bersama orang tua Timmy. Dan semoga Timmy mendapat pendidikan yang tepat, sehingga dia bisa tumbuh menjadi manusia mandiri yang bahagia...
Doa kami untukmu, nak...

ABANG - SANG CALON KOREOGRAFER

Abang sedang menjawab pertanyaan mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan provinsi Sumatera Barat. Berhenti karena tidak tahu nama tarian khasnya. Abang minta diberi hints...
Guru : OK. Salah satunya namanya sama dengan yang biasa kita pakai untuk makan
Abang : Ooooo...aku tahu! Tari Panci kan?!

POSISI TIDAK JELAS

Guru : Sekarang kita belajar mengenai gigi manusia. Coba sebutkan, di manakah letak gigi geraham?
Abang : Di bagian belakang
Guru : Ok, kalau gigi seri?
Abang : Di depan
Guru : Taring?
Abang : Di samping, di antara gigi seri & gigi geraham. Ehm... kalau JIGONG di mana ya, bu?

MALAS MANDI

Lagi-lagi menerima pesan pendek dari embak di rumah “Bu, Abang g mau mandi, tlg Ibu telp ke rmh. Disuruh mandi malah marah2” Hmmmm.... mesti putar otak, bagaimana cara berbicara ke Abang mengenai hal ini supaya efektif?
Beberapa hari yang lalu, Abang menunjukkan perkembangan kemandirian secara pesat : mandi tepat waktu, rajin ke masjid dan benar-benar karena mau sholat (bukan main sepeda di halaman masjid bersama teman-teman), makan dengan lahap apapun menu yang disajikan, menutup pintu dengan perlahan, bicara sopan & hormat terutama kepada orang dewasa, fokus di sekolah... dsb, dsb.
Memang, dia punya cita-cita, mau fokus dan jadi anak yang sholeh, supaya bisa segera terbebas dari diet CFGFnya. Semua perkembangan di atas memang tidak murni alias ada pamrihnya, jadi kami harus siap, sewaktu-waktu dia capek dan mundur ke belakang...

Dan pesan pendek dari mbak tadi menjadi penanda kemunduran tersebut. 

Sebagai pegawai yang bekerja di bidang pemasaran, saya ibaratkan Abang sebagai target komunikasi.  Untuk itu, banyak pemahaman (insights) yang harus dipertimbangkan, sebelum menyampaikan single minded message secara efektif kepada Abang

Beberapa insights yang bisa saya kumpulkan :
1. Kondisi emosional Abang sedang tinggi (marah-marah). Mungkin karena embaknya sudah kehilangan kesabaran juga. Jadi tidak mungkin saya untuk menceramahi Abang mengenai pentingnya mandi, apalagi dengan gaya imperatif
2. Abang – seperti anak-anak pada umumnya – menyukai power jika berkomunikasi dengan orang dewasa. Artinya, berikan pilihan, minta pertimbangan ke dia mengenai segala sesuatu, atau biarkan dia memutuskan sendiri. Biarkan dia memegang kendali ....
3. Abang sangat senang membeli perlengkapan mandi : sabun, shampoo, sikat & pasta gigi, busa mandi, dsb. Sebabnya bisa bermacam-macam : kepengin punya temannya, terpikat promo di toko (ada hadiah), atau iklan di TV. Jadi, seringkali perlengkapan mandinya menjadi banyak, yang lama belum habis/rusak, dia sudah membeli yang baru, lengkap dengan reasoningnya yang tidak terbantahkan. Misalkan “ Bunda, sabun ini pada waktu dipakai baunya berbeda dengan waktu kucium di botol! Ternyata aku tidak suka baunya!”. Valid, karena kita tidak mungkin mencoba produk di toko, sewaktu hendak membeli!
4. Abang sudah tersosialisai gerakan penghematan. Kami memberikan penjelasan kepadanya kenapa kami sekarang belanja sayuran, buah & lauk segar ke pasar tradisional, tidak ke supermarket. Mengurangi belanja mingguan ke supermarket menjadi  2X sebulan, membawa makan siang ke kantor, makan bersama di rumah pada saat week end (mengurangi frekuensi makan di restoran) dan sebagainya.

Dengan insights tersebut, saya telepon ke rumah dan bicara dengan Abang
“Abang tahu kan, kita sekarang harus lebih berhemat karena harga-harga menjadi lebih mahal sementara penghasilan Ayah dan Bunda cenderung tetap?”

“Ya”

“Nah, Ayah dan Bunda berdiskusi mengenai pengeluaran kita. Nampaknya tetap ada yang harus dikurangi. Setelah dilihat-lihat lagi, ternyata pengeluaran yang masih bisa dikurangi adalah pembelian perlengkapan mandi.”

“Maksudnya?”

“Bunda mau minta persetujuan Abang niy. Boleh gak, kalau mulai sekarang Abang tidak usah belanja perlengkapan mandi seperti sabun, shampoo, sikat & pasta gigi, dan sebagainya... Toh, Abang juga kurang suka mandi?”

“Oh ya Bunda, sudah mengerti. Assalamu’alaikum!”

Klek, telepon langsung ditutup.

Tidak berapa lama, masuk sms dari si embak
“Bu, abang sdh mandi. Tks”

JAMU CEKOK

Satu masalah yang paling menonjol pada Fikhar - sering juga dipanggil Fay - adalah : susah makan. Dia cenderung picky, mudah menyerah (Alot sedikit, lepeh. Keras sedikit, buang!), dan juga mudah muntah... Berbeda dengan abangnya yg omnivora (kali ini pelahap segala diartikan apapun dia makan!). Akibatnya perkembangan tubuh dan kesehatannya kurang optimal. Berat tubuhnya cenderung pas-pasan atau bahkan kurang, dan rendah daya tahan tubuhnya.
Setiap hari Fay minum supplemen mulai dari madu, sari kurma, habatussauda, sampai suplemen 'modern' seperti kalsium, minyak ikan atau multi vitamin lainnya. Namun mungkin karena lebih menyukai kegiatan motorik halus, Fay cenderung kurang gerak dan oleh karenanya tidak mudah lapar.
Mengetahui hal itu, Eyangnya di Yogya mengirimi jamu cekok. Jamu ini merupakan ramuan segar yang diberikan kepada anak dengan cara dibungkus kain dan diperas langsung ke dalam mulut alias dicekokkan. Jamu cekok ini memiliki beberapa jenis ramuan, namun yang paling terkenal manjur adalah cekok untuk menambah nafsu makan anak-anak.
Saya optimis Fay mau minum jamu cekok, dalam arti rasanya. Karena selama ini  Fayu tidak ada masalah minum obat batuk kemasan ramuan tradisional juga jamu anti masuk angin untuk anak-anak. Sekalipun demikian, jamu cekok tersebut tetap saya beri tambahan madu supaya lebih enak dan menambah manfaat.
Ternyata, meleset!
Begitu diminumkan, disemburkan! Saya buatkan lagi, disemburkan lagi! Begitu beberapa kali.
Merasa tidak mungkin berhasil dengan cara itu, saya ajak Fay bicara
"Fay tahu, kenapa Bunda harus kasih jamu ini? Kalau Fay mau makan, lengkap, buah, nasi, lauk dan sayur, badan Fay jadi kuat, tinggi besar dan selalu sehat! Fikhar tidak perlu minum jamu ini! Coba lihat Abang, apa Bunda kasih jamu ini ke Abang?"
Fay menggeleng
"Nah! Sekarang terserah Fay, mau makan atau mau coba lagi minum jamu ini?"
"Makan aja, Bunda. Fikhar mau badannya tinggi dan besar!"
Jadi, setiap kali Fay sulit makan, saya pura2 bicara ke mbaknya
"Mbak, coba tanya ke Fikhar, apakah dia sekarang merasa perlu minum jamu supaya lebih lahap makannya?"
Fay langsung menukas
"Gak mau, Bunda... Fikhar mau makan saja sekarang!"
Wah, rupanya jamu cekok itu manjur, berdaya hasil tinggi, bahkan tanpa diminum. Pertanyaannya kemudian, apakah metode cekok masih sesuai untuk diterapkan kepada anak-anak yang sudah bisa diajak berdiskusi untuk mengatasi masalahnya?