Lagi-lagi menerima pesan pendek dari embak di rumah “Bu, Abang g mau mandi, tlg Ibu telp ke rmh. Disuruh mandi malah marah2” Hmmmm.... mesti putar otak, bagaimana cara berbicara ke Abang mengenai hal ini supaya efektif?
Beberapa hari yang lalu, Abang menunjukkan perkembangan kemandirian secara pesat : mandi tepat waktu, rajin ke masjid dan benar-benar karena mau sholat (bukan main sepeda di halaman masjid bersama teman-teman), makan dengan lahap apapun menu yang disajikan, menutup pintu dengan perlahan, bicara sopan & hormat terutama kepada orang dewasa, fokus di sekolah... dsb, dsb.
Memang, dia punya cita-cita, mau fokus dan jadi anak yang sholeh, supaya bisa segera terbebas dari diet CFGFnya. Semua perkembangan di atas memang tidak murni alias ada pamrihnya, jadi kami harus siap, sewaktu-waktu dia capek dan mundur ke belakang...
Dan pesan pendek dari mbak tadi menjadi penanda kemunduran tersebut.
Memang, dia punya cita-cita, mau fokus dan jadi anak yang sholeh, supaya bisa segera terbebas dari diet CFGFnya. Semua perkembangan di atas memang tidak murni alias ada pamrihnya, jadi kami harus siap, sewaktu-waktu dia capek dan mundur ke belakang...
Dan pesan pendek dari mbak tadi menjadi penanda kemunduran tersebut.
Sebagai pegawai yang bekerja di bidang pemasaran, saya ibaratkan Abang sebagai target komunikasi. Untuk itu, banyak pemahaman (insights) yang harus dipertimbangkan, sebelum menyampaikan single minded message secara efektif kepada Abang
Beberapa insights yang bisa saya kumpulkan :
1. Kondisi emosional Abang sedang tinggi (marah-marah). Mungkin karena embaknya sudah kehilangan kesabaran juga. Jadi tidak mungkin saya untuk menceramahi Abang mengenai pentingnya mandi, apalagi dengan gaya imperatif
Beberapa insights yang bisa saya kumpulkan :
1. Kondisi emosional Abang sedang tinggi (marah-marah). Mungkin karena embaknya sudah kehilangan kesabaran juga. Jadi tidak mungkin saya untuk menceramahi Abang mengenai pentingnya mandi, apalagi dengan gaya imperatif
2. Abang – seperti anak-anak pada umumnya – menyukai power jika berkomunikasi dengan orang dewasa. Artinya, berikan pilihan, minta pertimbangan ke dia mengenai segala sesuatu, atau biarkan dia memutuskan sendiri. Biarkan dia memegang kendali ....
3. Abang sangat senang membeli perlengkapan mandi : sabun, shampoo, sikat & pasta gigi, busa mandi, dsb. Sebabnya bisa bermacam-macam : kepengin punya temannya, terpikat promo di toko (ada hadiah), atau iklan di TV. Jadi, seringkali perlengkapan mandinya menjadi banyak, yang lama belum habis/rusak, dia sudah membeli yang baru, lengkap dengan reasoningnya yang tidak terbantahkan. Misalkan “ Bunda, sabun ini pada waktu dipakai baunya berbeda dengan waktu kucium di botol! Ternyata aku tidak suka baunya!”. Valid, karena kita tidak mungkin mencoba produk di toko, sewaktu hendak membeli!
4. Abang sudah tersosialisai gerakan penghematan. Kami memberikan penjelasan kepadanya kenapa kami sekarang belanja sayuran, buah & lauk segar ke pasar tradisional, tidak ke supermarket. Mengurangi belanja mingguan ke supermarket menjadi 2X sebulan, membawa makan siang ke kantor, makan bersama di rumah pada saat week end (mengurangi frekuensi makan di restoran) dan sebagainya.
Dengan insights tersebut, saya telepon ke rumah dan bicara dengan Abang
“Abang tahu kan, kita sekarang harus lebih berhemat karena harga-harga menjadi lebih mahal sementara penghasilan Ayah dan Bunda cenderung tetap?”
“Ya”
“Nah, Ayah dan Bunda berdiskusi mengenai pengeluaran kita. Nampaknya tetap ada yang harus dikurangi. Setelah dilihat-lihat lagi, ternyata pengeluaran yang masih bisa dikurangi adalah pembelian perlengkapan mandi.”
“Maksudnya?”
“Bunda mau minta persetujuan Abang niy. Boleh gak, kalau mulai sekarang Abang tidak usah belanja perlengkapan mandi seperti sabun, shampoo, sikat & pasta gigi, dan sebagainya... Toh, Abang juga kurang suka mandi?”
“Oh ya Bunda, sudah mengerti. Assalamu’alaikum!”
Klek, telepon langsung ditutup.
Tidak berapa lama, masuk sms dari si embak
“Bu, abang sdh mandi. Tks”
Dengan insights tersebut, saya telepon ke rumah dan bicara dengan Abang
“Abang tahu kan, kita sekarang harus lebih berhemat karena harga-harga menjadi lebih mahal sementara penghasilan Ayah dan Bunda cenderung tetap?”
“Ya”
“Nah, Ayah dan Bunda berdiskusi mengenai pengeluaran kita. Nampaknya tetap ada yang harus dikurangi. Setelah dilihat-lihat lagi, ternyata pengeluaran yang masih bisa dikurangi adalah pembelian perlengkapan mandi.”
“Maksudnya?”
“Bunda mau minta persetujuan Abang niy. Boleh gak, kalau mulai sekarang Abang tidak usah belanja perlengkapan mandi seperti sabun, shampoo, sikat & pasta gigi, dan sebagainya... Toh, Abang juga kurang suka mandi?”
“Oh ya Bunda, sudah mengerti. Assalamu’alaikum!”
Klek, telepon langsung ditutup.
Tidak berapa lama, masuk sms dari si embak
No comments:
Post a Comment