Thursday, December 9, 2010

ABANG, SANG LELAKI KECIL BERJIWA BESAR

Kondisi psikologis & emosional Abang cenderung naik turun. Secara umum, Abang bersikap aktif, periang, mudah beradaptasi pada lingkungan baru, cenderung ofensif, banyak melakukan kegiatan motorik kasar, kurang terorganisasi  dan tentu saja mudah beralih perhatian. Terkadang, dia sangat manis dan begitu menyenangkan. Namun di saat lain, Abang bisa begitu menjengkelkan semua orang.
Sekalipun demikian, satu hal yang seringkali muncul dan bahkan bisa dilihat sebagai suatu sikap yang menetap, adalah kepeduliannya pada orang lain yang sangat tinggi. Saking tingginya, terkadang kita harus ‘mengerem’nya karena bahkan bisa mengabaikan asas kepantasan. Namun pada umumnya, bisa dikatakan kepekaan dan kepedulian kepada orang lain yang dimiliki Abang sangat tinggi, atau paling tidak lebih tinggi dibandingkan teman-teman seusianya.
Sikap ini juga dia tunjukkan ketika eyangnya (neneknya) yang tinggal di Yogyakarta “mengungsi” ke rumah kami karena ada bencana Merapi. Selain melarang eyangnya melakukan hal-hal fisik (menyapu halaman, memotong tanaman, membantu memasak) dengan alasan :
“Nanti Eyang capek! Eyang duduk saja sambil baca koran atau nonton TV ya?!”
Abang juga peduli kepada kondisi pendengaran eyangnya yang sudah sangat berkurang.
Terkadang dia mengeluh,
“Aduuuuh, Bunda… susah banget bicara sama Eyang! Nggak denger!”
Tapi lebih sering saya mendapati Abang berbicara ke Eyang dengan volume besar, intonasi jelas, dan kecepatan berbicara rendah. Hal ini tentu saja bukan hal yang gampang buat Abang yang cenderung berbicara keras, cepat dan intonasi asal-asalan. Belum lagi kecenderungan Abang untuk cadel dalam melafalkan huruf “R”.
Bagi saya, merupakan suatu keindahan menyaksikan gaya bicara Abang kepada eyangnya. Selain lucu – seperti seorang guru TK sedang mengajari konsep baru kepada muridnya, juga karena saya tahu Abang sedang bersungguh-sungguh dan berusaha keras mengatasi kelemahannya agar bisa berkomunikasi dengan eyangnya!
Tapi, ternyata bukan hanya itu!
Pada suatu sore, Abang mendekatiku dan bertanya :
“Bunda tau, di mana letak Bank Xxxx yang terdekat?!”
“Loh, memangnya kenapa, Bang?”
“Aku mau ambil aja, uang yang ada di tabungan Abang di Bank Xxxx itu!”
“Buat apa?Abang mau beli sesuatu? Kalau bisa tabungan jangan dipakai kalau tidak perlu-perlu amat!”

Saya menduga, pasti Abang ingin sesuatu yang agak mahal sebagai hadiah mengingat hari ulang tahunnya tiba sebentar lagi. Ternyata…
“Aku mau bantu Bunda beliin alat bantu dengar buat Eyang! Kan, kata Bunda harga alat bantu dengar buat Eyang mahal?! Nah, kita ambil sajan tabungan Abang, sisanya ditambahi Bunda, biar Eyang bisa pakai alat bantu dengar”
Subhanallaah….

Saya tidak bisa berkata apapun, selain memeluk & mencium kepalanya. Tak terasa, air mata haru saya deras menetes, membasahi rambut ikalnya....  

Beberapa waktu yang lalu, dia memang sempat bertanya, kenapa eyangnya belum pakai alat bantu dengar. Saya katakan ternyata harganya jauh di atas perkiraan, jadi perlu waktu karena harus menabung dulu.
Saya tidak tahu, berapa jumlah tabungan Abang yang mau diambil. Tapi saya tahu persis, perhatian Abang kepada neneknya sungguh tak ternilai!

No comments:

Post a Comment