Friday, December 10, 2010

PERTANYAAN DARI HR DIRECTOR

Abang akrab dengan seorang sepupunya, mb Rumi.  Keponakan saya ini kebetulan sedikit tomboy, dan mengerti betul dunia anak laki-laki. Mereka berdua bisa asyik ngobrol soal olah raga, hotwheels, betah main PS bareng  atau  bahkan rebutan mainan dengan radio control. Padahal, mb Rumi ini sudah lulus kuliah dan sedang menunggu panggilan kerja.
Suatu ketika, mb Rumi mengabarkan bahwa mantan teman SMAnya – dan sedang pedekate ke dia – datang ke Jakarta dalam rangka kompetisi olah raga bela diri. Karena sudah pernah berkenalan sebelumnya, kami sekeluarga menyempatkan diri untuk menjenguknya di tempat karantina yang lokasinya kebetulan tak jauh dari rumah kami.
Abang terkagum-kagum begitu mengetahui mas Ardi – teman mb Rumi - menjadi wakil kotanya untuk bertanding olahraga beladiri. Terlebih ketika kami jelaskan, mas Ardi ini mengetahui teknik-teknik beladiri termasuk bagaimana caranya agar jatuh tanpa rasa sakit apalagi sampai cedera/patah tulang.
Sekalipun tidak memiliki kesempatan untuk melihat secara langsung kompetisi itu, kekaguman Abang  terhadap mas Ardi tidak berkurang dan beberapa kali dia menyatakan ingin belajar bela diri seperti mas Ardi.
Waktu berlalu... Mb Rumi & mas Ardi masih melanjutkan penjajagan hubungan mereka. Hingga pada suatu hari, kami berkumpul pada acara keluarga yang diselenggarakan papa dan mama mb Rumi. Selesai acara, seperti biasa, kami duduk-duduk ngobrol kesana kemari. Pada waktu itu, ada mama mb Rumi, mb Rumi, saya dan Abang.
Abang bertanya ke mb Rumi
“Mb Rumi sudah dapat pekerjaan?”
“Iya, alhamdulillaah mb Rumi bulan depan mulai bekerja!”
“Kalau mas Ardi sudah bekerja belum?”
“Belum”
“Kenapa”
“Mas Ardi selesaikan kuliah dulu, nanti setelah selesai kuliah baru bekerja”
“Kenapa mb Rumi sudah selesai kuliah, mas Ardi belum?”

 
Sampai di sini, mama mb Rumi memalingkan muka, sambil menutup mulut menahan senyum dan berbisik ke saya
“Aduh dik, aku aja yang mamanya gak berani nanya!”
Mb Rumi mencoba menjelaskan,
“Karena beda kuliahnya. Mas Ardi lebih susah pelajarannya daripada mb Rumi”
“Kenapa mas Ardi memilih yang lebih susah? Bukannya lebih cepat dapat pekerjaan lebih baik?”
Kami semua terdiam dan tidak bisa secara spontan menjawab pertanyaan Abang.
Sampai akhirnya Abang berlalu dan melakukan hal lain, kami masih saling terdiam mencoba mencerna logika Abang.
Betul juga ya, pikir saya. Apalagi kalau menyadari kenyataan bahwa jenjang S1 sekarang ini lebih banyak memberikan landasan berpikir logis, bukan keahlian spesifik. Jadi seharusnya, selesaikan kuliah cepat-cepat dan bersiaplah menuju “dunia nyata”. Ambil yang sesuai minat sehingga sesulit apapun pilihan jurusannya, akan lebih mudah bagi mahasiswa untuk melaluinya.

No comments:

Post a Comment