Latar Belakang : Abang harus diet gula untuk mengurangi hiperaktivitasnya
Setting 1 : Sebuah hypermarket dalam rangka belanja persiapan puasa
Seperti biasa, pada saat belanja bulanan, kami bagi tugas : Saya belanja sesuai daftar. Suami belanja buah. Anak-anak browsing kebutuhan masing-masing. Browsing, karena tugas mereka adalah memilih alternatif barang /makanan yang baru akan dibeli jika sudah mendapat approval dari kami.
Abang sibuk memilih susu : susu cair atau bubuk, merek A atau merek B, ukuran besar atau sedang…. Bolak balik dia dari lorong susu ke tempat aku belanja, untuk meminta pendapat. Beberapa kali dia harus meletakkan kembali susu pilihannya karena dia baca di kemasannya, produk itu mengandung gula. Hingga akhirnya terpilihlah susu pilihannya. Tanpa gula, merek yang cukup terpercaya, ukuran kemasan yang pas, dan tentu saja desain kemasan yang menarik (terlihat lezat menurut Abang). Alhamdulillaah, senangnya… Abang semakin sadar diet!
Setting 2 : Percakapan telepon setelah ashar di hari puasa ke-3 antara Saya (di kantor) dan Abang (di rumah)
Abang : Bunda, hari ini Bunda mau dibikinin bukaan apa?
Saya : Apa yaa… Mungkin es buah? Kita punya bahan-bahannya kan?!
Abang : Mmmmmm…. Ada. Tapi kayaknya harus beli sirup
Saya : Beli sirup? Bukannya kemarin kita dapat hadiah belanja sirup dan belum dipakai?
Abang : Eeeerrrrrr….. tinggal sedikit sih.
Saya : Loh, kok tinggal sedikit? Siapa yang minum?! (pura-pura tanya, padahal saya sudah tahu jawabannya)
Abang : Maafkan aku ya Bunda, aku pengin sekali….
Saya : Diminum pakai apa?
Abang : Iya, aku campurkan ke susu. Enak Bun, kaya es soda gembira tapi tanpa soda!
Oalaaah Nggerrrr.... Waktu milih susu sampai bolak-balik cari yang tanpa gula. Sampai di rumah dicampur sirup! Terang aja kemarin kalah puasa. Pasti sudah kebayang-bayang es soda gembira minus soda!
