Thursday, December 9, 2010

SURAT CINTA

Pagi-pagi, ketika sedang mandi, saya mendengar ada keributan di meja makan yang berujung dengan tangisan Fikhar.
Selesai mandi, saya sempat melongok meja makan dan berkomentar
“Apa lagi nij?! Bisa diselesaikan dengan bicara baik-baik?”
Keributan dan tangisan Fikhar berhenti.
Saya ke kamar ganti, berganti pakaian dan bersiap untuk berangkat ke kantor.
Keluar dari kamar ganti, Abang menyodorkan kertas terlipat sambil berkata
“Ini buat Bunda, tolong nanti dibaca”

Di mobil, kertas terlipat itu saya buka

“Untuk : Bunda. Bunda, saya sudah benci kepada Fikhar. Saya selalu mengalah. Walaupun saya mau ini, saya tetap mengalah. Apapun yang dipegang saya, selalu diminta. Kalau saya tidak kasih, Fikhar nangis. Fikhar itu senjatanya menangis, supaya nanti yang buat Fikhar menangis, dimarahin”
Dari embak, saya mendapat informasi, Abang minta lauk sarapan – jamur enoki goreng milik Fikhar. Fikhar tidak mau berbagi, si Abang mengambil dengan paksa.
Sebelum pulang kantor, saya siapkan “ surat balasan” buat Abang. Ketika sampai di rumah, saya sodorkan surat itu ke Abang yang datang menyambut
“Untuk : Abang. Abang, Bunda kok makin hari makin cinta kepada Abang. Kenapa ya?! Padahal, Abang sering membuat Bunda kesal. Apa yang Bunda katakan, sering tidak didengarkan. Memang semua itu untuk kebaikan  Abang, tapi seharusnya Bunda benci kepada Abang! Juga kalau Abang tidak mau mengalah kepada Fikhar. Atau mungkin karena Bunda percaya, Abang adalah anak yang sholeh, pintar dan sayang kepada sesama?! Bunda percaya Abang adalah seorang kakak yang baik buat Fikhar dan bisa memberikan contoh bersikap yang baik kepada dia. Semoga anak Bunda yang pintar dan sholeh ini mau mengerti. Salam, Bunda”
 Saya perhatikan, ketika membaca wajahnya terlihat cerah dan bibirnya beberapa kali tersenyum, dan sambil melipat kembali surat itu, dia berkata :
“Insya Allah, Bunda. Saya bisa mengikuti peraturan dan membuat Bunda bahagia”

No comments:

Post a Comment