Thursday, December 2, 2010

JAMU CEKOK

Satu masalah yang paling menonjol pada Fikhar - sering juga dipanggil Fay - adalah : susah makan. Dia cenderung picky, mudah menyerah (Alot sedikit, lepeh. Keras sedikit, buang!), dan juga mudah muntah... Berbeda dengan abangnya yg omnivora (kali ini pelahap segala diartikan apapun dia makan!). Akibatnya perkembangan tubuh dan kesehatannya kurang optimal. Berat tubuhnya cenderung pas-pasan atau bahkan kurang, dan rendah daya tahan tubuhnya.
Setiap hari Fay minum supplemen mulai dari madu, sari kurma, habatussauda, sampai suplemen 'modern' seperti kalsium, minyak ikan atau multi vitamin lainnya. Namun mungkin karena lebih menyukai kegiatan motorik halus, Fay cenderung kurang gerak dan oleh karenanya tidak mudah lapar.
Mengetahui hal itu, Eyangnya di Yogya mengirimi jamu cekok. Jamu ini merupakan ramuan segar yang diberikan kepada anak dengan cara dibungkus kain dan diperas langsung ke dalam mulut alias dicekokkan. Jamu cekok ini memiliki beberapa jenis ramuan, namun yang paling terkenal manjur adalah cekok untuk menambah nafsu makan anak-anak.
Saya optimis Fay mau minum jamu cekok, dalam arti rasanya. Karena selama ini  Fayu tidak ada masalah minum obat batuk kemasan ramuan tradisional juga jamu anti masuk angin untuk anak-anak. Sekalipun demikian, jamu cekok tersebut tetap saya beri tambahan madu supaya lebih enak dan menambah manfaat.
Ternyata, meleset!
Begitu diminumkan, disemburkan! Saya buatkan lagi, disemburkan lagi! Begitu beberapa kali.
Merasa tidak mungkin berhasil dengan cara itu, saya ajak Fay bicara
"Fay tahu, kenapa Bunda harus kasih jamu ini? Kalau Fay mau makan, lengkap, buah, nasi, lauk dan sayur, badan Fay jadi kuat, tinggi besar dan selalu sehat! Fikhar tidak perlu minum jamu ini! Coba lihat Abang, apa Bunda kasih jamu ini ke Abang?"
Fay menggeleng
"Nah! Sekarang terserah Fay, mau makan atau mau coba lagi minum jamu ini?"
"Makan aja, Bunda. Fikhar mau badannya tinggi dan besar!"
Jadi, setiap kali Fay sulit makan, saya pura2 bicara ke mbaknya
"Mbak, coba tanya ke Fikhar, apakah dia sekarang merasa perlu minum jamu supaya lebih lahap makannya?"
Fay langsung menukas
"Gak mau, Bunda... Fikhar mau makan saja sekarang!"
Wah, rupanya jamu cekok itu manjur, berdaya hasil tinggi, bahkan tanpa diminum. Pertanyaannya kemudian, apakah metode cekok masih sesuai untuk diterapkan kepada anak-anak yang sudah bisa diajak berdiskusi untuk mengatasi masalahnya?

No comments:

Post a Comment